Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 20 Februari 2017

Menyelami Hati Melalui Tulisan Tangan (Final)

Setelah tangisnya reda, Putri meminta maaf kepada Adit karena telah membuatnya menunggu lama. Dia kembali menceritakan hidupnya, baik tentang keluarganya, lingkungannya, bahkan kebiasaan-kebiasaan anehnya yang biasa dilakukan saat sedang sendirian di rumah. Putri bercerita mengenai sifat perfectionist-nya. Bagi Putri, semua harus terlihat sempurna, bila tidak, hal itu membuat dirinya tidak nyaman. Terkadang ada sebuah dorongan mendesak dalam pikiran Putri yang harus dia turuti dan terasa menyiksa bila diabaikan.

"Hati-hati, Put. Bisa aja loh itu salah satu simtom gangguan mental." kata Adit, yang sebenarnya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti Putri. "Nama gangguannya..." belum saja Adit menyebutkan nama gangguan itu, Putri dengan cepat memotong perkataannya.

"Obsessive Compulsive Disorder." kata Putri, menyebutkan nama gangguan yang dimaksudkan Adit. Tentu saja Adit terkejut mendengarnya, bagaimana Putri bisa tau akan jenis gangguan itu. Dia pun menanyakan keheranannya tersebut kepada Putri. Lalu Putri menjawab bahwa dia tau itu dari buku pengantar kuliahnya yang berjudul Ilmu Kedokteran Jiwa.

Adit hanya terdiam. Sepertinya Putri sudah dan lebih tau mengenai gangguan itu.

Setelah sekian lama, Fitri dan Jamal tiba. Terlihat Fitri membawa sebuah kantong plastik warna putih berukuran sedang dari supermarket. Usai Jamal memarkirkan motornya di halaman rumah Laila, mereka berdua berjalan menuju ke ruang tamu. Jamal masuk ke ruang tamu mendahului Fitri. Sementara Fitri menghentikan langkahnya sejenak di teras, tempat di mana Adit dan Putri saat itu berada.

"Sudah baikkan, Put?" tanya Fitri kepada Putri. Putri melemparkan sebuah senyuman, lebih riang dari sebelumnya kepada Fitri, menandakan bahwa dia baik-baik saja. "Baguslah." lalu Fitri merogoh-rogoh kantong pelastik yang dibawanya itu. Dikeluarkannya dua buah ice cream, satu rasa cokelat dan satu rasa vanilla, lalu memberikannya kepada Putri dan Adit. "Nih, buat kalian."

"Wah, makasih Fitri!" kata Putri, sambil mengambil kedua buah ice cream yangnada di tangan Fitri. "Baik banget, sih?" lanjutnya. Setelah Putri mengambil ice cream tersebut, Fitri masuk ke dalam ruang tamu. "Kamu mau yang mana?" tanya Putri menawarkan ice cream kepada Adit.

Adit memilih ice cream rasa vanilla. Sengaja Adit memilih vanilla karena dia tau bahwa perempuan sangat suka cokelat. Dia tau bahwa perempuan sangat suka cokelat dari majalah Gadis yang sempat dia baca. Putri pun memberikan ice cream rasa vanilla ke Adit.

Mereka berdua memakan ice cream sambil mengobrol.

"Eh iya," Putri membuka obrolan. "Kenapa, sih, Dit, kamu kalo lagi ngomong kok jarang liat mata lawan bicaramu?" tanyanya, sambil menggigit lapisan coklat ice cream yang dia pegang.

Setelah menjilat ice cream vanillanya, Adit menjawab, "Aku pemalu, Put." jawabnya. "Aku benci kontak mata. Soalnya... aku pemalu."

"Masak, sih?" Putri sedikit tertawa. Setelah itu dia menghadapkan wajahnya ke arah mata Adit dengan jarak yang cukup dekat. Adit pun terkejut dan mengalihkan pandangannya. Putri menghadapkan wajahnya lagi ke arah mata Adit dengan jarak yang dekat. Adit mengalihkan pandangannya lagi. Hingga berkali-kali.

"Apa, sih, Putri? Malu, ah!" seru Adit, sambil terus berusaha mengalihkan matanya dari kejaran mata Putri. Mendengar itu, Putri tertawa terbahak-bahak. Putri kemudian menggambar sebuah wajah di bagian yang tersisa di kertas tadi. Wajah itu digambarkan serupa wajah Adit. Rambut agak gondrong, belah tengah, dan berkacamata.

"Kalo gitu aku ngomongnya liat ini aja, ya. Biar kamu gak malu." kata Putri, sambil menunjukkan gambar wajah yang baru saja dia gambar kepada Adit. Adit tertawa saja.

Putri meletakkan ice cream-nya di atas meja dalam kondisi tersisa hampir seperempatnya, kemudian menutup bungkusnya. Adit yang melihat itum, lalu bertanya, "Loh? Kok gak dihabisin, sih?"

Putri membersihkan sisa cokelat yang ada di pinggir mulutnya. Dia menjawab, "Gak apa. Aku gak begitu suka cokelat."

Ternyata Adit salah. Ternyata tidak semua perempuan suka cokelat.

Bukan, majalah itu lah yang salah.

Sudah sekitar pukul 9.30 malam. Fitri dan Jamal pamit pulang. Adit pun ikut pulang. Putri seperti biasa, menginap di rumah Laila.

Setibanya Adit di kosnya, sekitar 5 menit kemudian, dia melihat handphonenya. Terdapat sebuah pesan Line dari Putri yang berisi ucapan terima kasih karena sudah mendengarkan ceritanya. Lalu Adit dan Putri saling berbalas pesan setelahnya.

"Kenapa kamu milih aku buat jadi temen kamu?" tanya Putri dalam pesan Line. Adit tersenyum. Pertanyaan bodoh bagi Adit, tapi entah kenapa dia senang membacanya.

Adit menjawab. "Rahasia."

"Si compulsive pengen tau."

Tentu saja Adit tau, siapa Si Compulsive yang Putri maksud. Ialah Putri sendiri. "Kalau begitu, selamat mencari tau." jawab Adit. Putri hanya membalas Okay saja. Adit mengira bahwa Putri marah, langsung saja dia menjawab, "Ya karena kamu aneh aja. Beda sama cewek lain yang kalo ngomong isinya cuma gosip."

Putri cuma menjawab, "Oh."

Sepertinya terulang lagi. Suasana hati Putri sepertinya sudah mulai berubah menjadi dingin.

"Kalo ada mau curhat, ngomong aja ya. Insya Allah aku bantu." tulis Adit. Dia menambahkan, "Anytime you want me to hehe."

"Okay." jawab Putri dengan menambahkan emote senyum di akhir kata. Lalu Putri menambahkan, "Cerdas kamu, Adit."

Adit mendadak heran, "Kok bisa?"

"Rahasia."

"Si compulsive pengen tau." balas Adit, menirukan pesan Putri sebelumnya.

Putri tidak mau kalah, dia juga membalas dengan menirukan pesan Adit sebelumnya, "Kalau begitu, selamat mencari tau."

Adit tersenyum kembali, sambil memikirkan harus membalas apa. Akhirnya Adit hanya membalas, "Selamat beristirahat ya, Putri."

"Kamu juga. Bye."


NB: Cerita fiksi ini adalah buah karangan yang terinspirasi dari kisah sebenarnya.